Generasi Milenial Punya Hutang Paylater Tembus Triliunan

07 Feb

Generasi Milenial Punya Hutang Paylater Tembus Triliunan

07 February 2024
Gaya hidup generasi milenial dan gen Z kian berubah dengan memiliki pandangan antara mengutamakan kebutuhan dan keinginan. Pembayaran belanja digital dianggap lebih mudah dan mendapatkan keuntungan belanja tanpa membayar penuh di awal dengan sistem cicilan atau paylater.

Produk paylater memberikan kemudahan untuk masyarakat, generasi milenial dan gen Z mendapatkan pinjaman. Dengan paylater hanya meminta data-data seperti informasi KTP, nomor HP, dan alamat email sudah mendapatkan pinjaman dengan mudah.

PT Pefindo Biro Kredit atau IdScore mencatat rasio NPL, buy now pay later (paylater) telah mencapai 9,7% atau di atas batas aman rasioNPL 5%. Secara nilai hingga bulan keempat tahun ini sebesar Rp3,28 triliun atau naik 72,6% yoy. Berdasarkan umur, rentang usia 20-30 tahun menyumbang 47,78% terhadap NPL paylater. Kemudian diikuti usia 30-40 tahun (lebih dari 20%), 40-50 tahun, dan kurang dari sama dengan 20 tahun.

Dari data di atas menunjukkan kondisi generasi milenial dan gen Z begitu mengkhawatirkan dengan memiliki tanggungan cicilan yang harus dibayar. Padahal, di usia muda masih bisa menciptakan inovasi atau melihat peluang mendapatkan penghasilan agar terhindar dari paylater. Generasi milenial atau gen Z bisa mencoba memulai bisnis dengan menjual produk-produk lokal yang berpotensi  menembus pasar ekspor. Dimulai dari usaha kecil-kecilan seperti fesyen, kuliner, kerajinan dan lainnya.  Hanya saja masih saja masih banyak yang belum mengetahui atau memahami supaya produknya bisa di ekspor ke luar negeri.

Ada Tiga Anak Muda Yang Menginspirasi Memulai Bisnis Ekspor Produk Indonesia

Sumber foto: Doc. ANTARA
Mengutip media ANTARA, Oktober 2021, seperti Monica Amadea,  Kevin Naftali dan Pocut Yasmine. Monica Amadea usia 20 tahun memiliki bisnis produk fesyen bermula dari seorang reseller pakaian wanita, bermula berjualan lewat e-commerce bermodal konsisten menjual pilihan pakaian perempuan inklusif bagi semua ukuran tubuh perempuan.
Kevin Naftali usia 28 tahun salah satu pemuda yang memanfaatkan peluang juga melihat peluang dari industri fesyen memulai bisnis di tahun 2011. Dia menyebut pada 2017-2018 mencoba melihat pasar kehadiran e-commerce  sangat membantu perkembangan merek fesyen lokal.

Ekspor yang dilakukan oleh Kevin bermula menitip dari temannya yang kuliah di luar negeri dengan jumlah pemesanan sedikit. Sejak mengikuti program ekspor yang diadakan di salah satu e-commerce Kevin meraih omset 25% hanya dari satu ekspor. Ia juga bisa dengan mudah melakukan ekspor produknya ke Singapura dan Thailand.

Sementara itu, Pocut Yasmine usia 25 tahun memulai bisnisnya saat masih kuliah walaupun jurusan arsitek. Bermula berjualan seperti stiker, pin dan printable, dan sempat mengalami gagal karena melakukan secara mandiri mengiklankan produknya di Instagram namun ongkos pengiriman yang begitu mahal.

Pada 2018 dia mencoba memanfaatkan e-commerce untuk berjualan secara online dan terus mengembangkan produknya yang di ekspor ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan kedepan akan menambah negara-negara lain.

Sumber:
Generasi Milenial Punya Utang Paylater Sekitar Rp 2 T (cnbcindonesia.com)
Kisah 3 pemuda Indonesia yang bawa produk lokal mendunia (ANTARA News)